Minggu, 04 Oktober 2015

arsiSKETCHwalk di Kota Lama Semarang


Sebelum subuh pesan di Whatsapp sudah saling balas, mengingatkan untuk bangun dan bersiap-siap.
Rencananya kita bakal berangkat jam 6 pagi, sangat pagi sih bahkan untuk orang yang  rutininasnya berangkat kerja di pagi hari. Tapi ini kan karena yang usul juga tukang begadang, baginya jam 6 pagi adalah larut malam. Pagi itu yang jadi berangkat adalah saya, Adjie, mas Hendra, mbak Idho, Oci dan kemudian Pipit yang terakhir sampai di terminal. Tepat pukul 07.34 bus berangkat dari terminal Jombor menuju ke Semarang sembari mengantar penumpangnya menuju lelap mengganti waktu tidur yang terpotong sebelumnya. 

Berangkat ke Semarang saat akhir pekan itu baiknya memang pagi hari, karena waktu tempuh normal yang sekitar 3 jam akan berbeda kalau sudah beranjak siang apalagi sore. Pukul 10.00 dengan sisa kantuk kami turun di Banyumanik, disambut panas teriknya Semarang kontras dengan dinginnya AC di dalam. Kami berpindah naik angkot menuju kota lama, jarang-jarang loh kita naik angkot soalnya angkutan umum di Jogja itu nyaris hilang. Ada sih, yaitu Trans Jogja yang identik dengan kepulan asap hitam pekatnya atau bus kota milik swasta yang sudah sepantaran mas Hendra Yon Koeswoyo.

Di sepanjang jalan kita diiringi bapak-bapak pengendara motor yang memarahi dan memaki pengendara motor yang lain sambil tetap melaju di samping angkot, saya juga tak tau apa sebabnya. Selanjutnya jalanan con block dan bergelombang seperti memberitahu bahwa kita sudah sampai di Kota lama Semarang.

 


arsiSKETCHwalk merupakan rangkaian acara yang diselenggarakan dalam rangka memperingati hari jadi arsiSKETur yang ke-3, meliputi acara sketchwalk, pameran, dan workshop seputar sketsa. arsiSKETur itu sendiri adalah komunitas penghobi yang tertarik dengan karya sketsa obyek bangunan karya-karya arsitektur beserta lingkungannya. Beranggotakan banyak sekali orang yang sudah lama terjun dalam kegemaran live sketch, jadi maklum kalau anggotanya kelihatan berumur

Pukul 13.00 acara resmi dibuka dengan beberapa sambutan, dibawakan oleh host yang saya rasa  tak terlalu mengerti tentang live sketch kemudian ditutup dengan do’a. Do’a dilantunkan dengan cara Kristen, ini pertama kalinya saya ikut dalam doa cara Kristen setiap baitnya terdengar menenangkan. Iya begitulah seharusnya do’a, merdu dan menenangkan.

Sketchwalk hari pertama dimulai dengan beberapa spot; gedung Marba, gereja Blenduk dan Spiegel. Tapi Mas Toni malah mengajak kita ke jalan Kepodang, tempat ini harusnya jadi spot untuk keesokan harinya. Saya, Oci dan Pipit mengikuti langkah mas Toni sedangkan mbak Idho dan mas Hendra tetap mengikuti rute yang seharusnya. Dan Adjie, sepengetahuan mas Hendra dia mau nyeket di Pecinan.

Setiap Mas Hendra mengucapkan Pecinan, artinya lebih mirip dengan “pake peci” daripada “tempat orang cina”. Hal ini berlanjut bahkan hingga kami pulang ke Jogja, masih diucapkan dengan cara yang sama. 

Untuk menuju kesana kami melewati gang kecil yang penuh penjual ayam petarung dikelilingi dengan tembok terkelupas dan akar pepohonan yang menembus sela-sela batu bata seakan menyatu dengan tembok itu sendiri. Tempat ini sangat ramai, berbeda dengan jalan yang kami lalui sebelumnya yang sangat lengang dan sepi aktivitas.

 

Jalan Kepodang yang didominasi penjual ayam petarung ini riuh dengan lalu-lalang kendaraan bermotor, angkot yang juga berebut lewat, pedagang makanan dan cuma satu penjual ayam pedaging. Bangunan di sekitarnya relatif terbengkalai dengan sampah bertumpuk di banyak sudut.

 

Rumah dengan pohon yang tumbuh diatasnya itu menurut warga disini, dihuni kuntilanak yang kadangkala menampakkan diri terbang diantara gedung dan kadang melayang menyebrang jalan. Di Kota Lama air cukup sulit didapat karena saluran air tidak menjangkau tiap bangunan, bahkan basecamp yang kami tempati pun tidak ada airnya.

Ada workshop dengan berbagai materi di hari kedua, saya tidak mengikuti workshop dan kembali nyeket di jalan Kepodang yang pagi hari itu ramai sekali.Sketchwalk dimulai setelah workshop selesai, semua sketcher berkumpul jadi satu di depan Gereja Blenduk. Kira-kira ramainya kayak gini.

 

Semakin sore dan semakin sore  ini saatnya kita pulang, sedikit buru-buru takutnya sudah tak ada bus ke Jogja. Apalagi mas Hendra juga sudah mulai bertingkah aneh, berlagak seperti pemain ketoprak sambil menyemprot-nyemprotkan air pake botol spray ke leher dan tangan. Kelihatannya sih sudah mulai sawan.

Ini beberapa sketch yang saya dapat dari arsiSKETCHwalk.

 
 
 
Dokumentasi arsiSKETCHwalk bisa juga dilihat disini. Kota Lama Semarang adalah tempat yang menarik untuk live sketch, mungkin lain kali bakal kembali kesini untuk nyeket karena banyak tempat yang belum terekam dalam buku sketsa. *Tapi pilih waktu yang tepat, disana gerah je.

1 komentar:

Priyo Handoko mengatakan...

salam kenal ms.... desainnya sangat menginspirasi sekali apalagi sy orang semarang. jarang pulang jadi rindu dengan semarang